
DENPASAR – VISIBALI.COM. Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Udayana kembali mencetak doktor baru. Kali ini, Ni Made Widani resmi menyandang gelar doktor Ilmu Ekonomi setelah menjalani sidang promosi yang digelar secara khidmat di Gedung BH FEB Unud, Jumat (11/7/2025).
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mahendradatta ini mendapat bea siswa dari yayasan tempatnya mengabdi, sehingga Widani dapat melanjutkan program S3 di FEB Universitas Udayana.
Disamping itu Widani bukanlah sosok asing di industri pariwisata Bali. Sosok yang telah malang melintang lebih dari 20 tahun bekerja dengan background sebagai Director of Sales, pernah juga selaku General Manager di Grand Palace Sanur dan terakhir selaku Director of Sales Marketing (DOSM) di Melasti Kuta Beach Hotel & Spa. Namun, pengalamannya di dunia perhotelan justru mendorongnya meneliti sektor lain yang tak kalah krusial yakni Usaha Mikro Kecil (UMK) bidang kuliner.
Dalam disertasinya yang berjudul “Strategi Keberlanjutan Usaha Mikro Kecil Bidang Kuliner di Kabupaten Badung”, Widani menyoroti ketahanan ekonomi masyarakat Bali pasca pandemi COVID-19. Fenomena berpindahnya tenaga kerja dari sektor pariwisata ke usaha kuliner selama krisis menjadi perhatian utama.
“Ketika pariwisata terpuruk, banyak masyarakat beralih ke usaha kuliner karena makanan adalah kebutuhan pokok. Tapi setelah ekonomi membaik, banyak usaha kuliner ini malah gulung tikar. Itu artinya mereka tidak punya strategi keberlanjutan,” jelas Widani dalam pemaparannya.
Widani memulai studi sarjananya di Universitas Mahasaraswati Denpasar pada 2003, lalu meraih gelar magister dari Universitas Pendidikan Nasional Denpasar pada 2019. Ia kemudian melanjutkan ke Program Doktor Ilmu Ekonomi di FEB Universitas Udayana sejak 2021.
Sebagai praktisi yang langsung bersentuhan dengan dunia usaha, Widani menggabungkan pengalaman lapangan dengan pendekatan ilmiah. Penelitiannya mengungkap bahwa tantangan utama UMK kuliner di Badung datang dari luar, mulai dari akses ke pelatihan, kemitraan bisnis, hingga dukungan keuangan.
“Banyak pelaku UMK yang tidak punya latar belakang manajemen. Mereka butuh pendampingan, bukan sekadar bantuan modal. Kita tidak bisa terus memakai model ‘dagang sate’ tanpa perencanaan,” ujarnya, menyentil realitas di lapangan.
Widani juga menekankan pentingnya peran lembaga keuangan seperti KUR, serta peluang kolaborasi lewat program CSR BUMN. Di sisi lain, ia menyerukan agar pemerintah hadir lewat regulasi yang memudahkan, bukan mempersulit.
“Pemerintah perlu menyusun kebijakan yang memperkuat daya tahan UKM, dari perizinan hingga pelatihan,” tegasnya.
Setelah mempertahankan disertasinya, Ni Made Widani dinyatakan lulus dengan predikat A dan menjadi doktor ke-132 dari Program Doktor Ilmu Ekonomi FEB Unud, sekaligus doktor ke-288 di lingkungan fakultas.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara dunia praktik dan akademik bisa menghasilkan gagasan solutif. Widani pun berkomitmen untuk terus mendorong ekosistem ekonomi kerakyatan berbasis kolaborasi dan keberlanjutan.
“Saya berharap hasil penelitian ini bisa jadi referensi bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan dalam membangun UKM yang adaptif dan tangguh di masa depan,” tutupnya. (wie)