
SINGARAJA, VISIBALI.COM – Momen perayaan Idul Fitri menjadi titik balik bagi umat Islam untuk memperbarui komitmen ketakwaan sekaligus mempererat tali persaudaraan. Dalam pesan Idul Fitri 1447 Hijriah yang disampaikan oleh Ustadz Sukarno Al Farizi, menekankan kemenangan sejati setelah menjalani ibadah Ramadan adalah lahirnya pribadi yang memiliki kesadaran moral dan tanggung jawab sosial yang tinggi.
Ustadz Sukarno mengawali pesannya dihadapan ratusan jamaah pada pelaksanaan Shalat Idul Fitri yang diselenggarakan oleh Pantia Hari Besar Islam (PHBI) Kecamatan Seririt pada Jumat (20/3/2026) di Masjid Raya Seririt. Ia mengingatkan kembali tujuan utama ibadah puasa sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yakni mencapai derajat taqwa. Menurutnya, ketakwaan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan membentuk manusia yang mampu menjaga kerukunan dalam kehidupan bersama.
“Idul Fitri adalah kesempatan emas untuk membangun kembali sikap spiritual kita. Ia bukan sekadar hari kemenangan pribadi, melainkan kemenangan umat Islam dalam membangun kehidupan yang lebih beradab, damai, dan penuh kasih sayang,” ujar Ustadz Sukarno.

Salah satu poin krusial yang disoroti terkait perbedaan metode penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri, seperti metode hisab dan rukyat. Ustadz Sukarno mengingatkan bahwa perbedaan ijtihad adalah hal yang lumrah dalam tradisi keilmuan Islam sejak zaman sahabat Nabi.
Ia mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang pahala ijtihad: “Jika seorang hakim berijtihad lalu benar, maka ia mendapat dua pahala. Jika ia berijtihad lalu keliru, maka ia tetap mendapatkan satu pahala.”
“Perbedaan dalam hal cabang agama (furu’iyah) tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyalahkan, apalagi memecah belah persatuan. Sebaliknya, perbedaan harus dikelola dengan sikap saling menghormati,” tegasnya.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, Ustadz Sukarno mengajak jamaah untuk meneladani nilai-nilai yang ditanamkan oleh para ulama Nusantara seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. Ia menekankan pentingnya menggabungkan kesalehan ritual dengan kesalehan sosial.
Mengutip pandangan Prof. Dr. Azyumardi Azra, beliau menyebutkan bahwa Islam di Indonesia harus tampil sebagai Ummatan Wasathan—umat yang moderat dan adil. Hal ini penting untuk menjaga keutuhan bangsa yang memiliki keragaman suku, bahasa, dan agama yang sangat luar biasa.
Menutup pesannya, Ustadz Sukarno Al Farizi mengajak seluruh umat Islam untuk memanfaatkan Idul Fitri sebagai momentum membersihkan hati dari iri, dengki, dan prasangka buruk. Tradisi saling memaafkan dan silaturahmi yang kuat di Indonesia merupakan manifestasi nyata dari ajaran Islam yang cinta damai.
“Mari kita perkuat Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah, dan Ukhuwah Insaniyah. Jika ada kesalahpahaman, mari selesaikan dengan hati yang lapang. Jika ada luka sosial, mari obati dengan saling memaafkan,” tandasnya. (red).



