Supadma Rudana Inisiasi Kirtya Jnana Kawya, Dorong Diplomasi Seni dan Kebangkitan Karya Maestro Indonesia
Putu Supadma Rudana

DENPASAR – VISIBALI.COM. Upaya memperkuat diplomasi budaya Indonesia terus dilakukan melalui kolaborasi lintas institusi seni dan pemerintah. Salah satunya melalui program “Kirtya Jnana Kawya”, sebuah inisiatif yang digagas President The Rudana Art Institution, Putu Supadma Rudana, sebagai ruang kolaborasi untuk mengangkat karya maestro dan memperluas jangkauan seni rupa Indonesia.
Program yang berlangsung di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat (27/3/2026) ini mensinergikan Kementerian Pariwisata, ISI Bali, serta The Rudana Art Institution dalam satu gerakan bersama yang tidak hanya menghadirkan pameran seni, tetapi juga menjadi jembatan diplomasi budaya.
Menurut Supadma Rudana, kegiatan ini bertujuan memberikan inspirasi kepada masyarakat melalui konsep-konsep karya para seniman maestro, sehingga penikmat seni dapat merasakan manfaat batin dari karya yang dihadirkan.
“Saya memposisikan diri sebagai inisiator yang ingin terus memberikan indikator dan konsep dalam berkarya, sekaligus mencarikan ruang bagi karya seniman agar dapat menjangkau ruang batin publik dan kolektor,” ujarnya.
Supadma Rudana menuturkan bahwa diplomasi seni budaya telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak menyelesaikan studi di Amerika Serikat pada 1998.
Saat itu, ia aktif menggandeng berbagai galeri di Amerika untuk memamerkan mahakarya seni Indonesia di sejumlah kota, termasuk New York. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal memperkenalkan seni rupa Indonesia di panggung internasional.
Melalui diplomasi seni, ia ingin memastikan bahwa karya-karya seniman Indonesia tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga mendapat apresiasi global.
“Seni adalah bahasa universal yang mampu menjangkau siapa saja tanpa batas negara,” katanya.
Dalam program Kirtya Jnana Kawya, Supadma Rudana juga menyoroti pentingnya mengangkat perjalanan seorang maestro seni yang telah melalui berbagai tahapan kehidupan.
Menurutnya, sosok maestro yang dipilih merupakan figur yang telah menjalani perjalanan panjang, mulai dari pendidikan seni, pengalaman berkarya di dalam dan luar Bali, hingga mengemban berbagai peran penting dalam dunia kebudayaan dan pendidikan.
Perjalanan tersebut mencerminkan kedewasaan artistik yang tercermin dalam karya-karya yang memiliki getaran dan energi kuat.
“Karya seorang maestro memiliki resonansi yang luar biasa. Ini yang perlu dijelaskan kepada publik, bagaimana proses kreatif dan perjalanan panjang itu melahirkan mahakarya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman berpameran di berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri selama lebih dari 20 tahun menjadi bukti konsistensi dan dedikasi seniman dalam berkarya.
Sebagai bagian dari program ini, pameran akan menampilkan puluhan karya dari perjalanan kreatif 20 tahun terakhir sang maestro.
Pameran akan diawali di Institut Seni Indonesia Bali pada Juni 2026 dengan sekitar 88 karya, sebelum kemudian berkembang hingga mencapai sekitar 100 karya untuk pameran lanjutan di berbagai daerah, termasuk kawasan Danau Toba.
Karya-karya tersebut menampilkan kekuatan goresan, spektrum warna yang luas, serta energi visual yang kuat, terutama dalam karya abstrak yang menjadi puncak perjalanan artistik sang seniman.
Supadma Rudana menilai karya abstrak merupakan fase pelepasan dalam perjalanan seni, ketika seniman telah menemukan kebebasan ekspresi dan kedalaman makna.
“Abstrak adalah puncak pencarian. Di situ seluruh energi, warna, dan pengalaman hidup menyatu menjadi mahakarya,” ujarnya.
Supadma Rudana menegaskan bahwa gerakan ini tidak hanya bertujuan menghadirkan pameran, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mencintai karya seni Indonesia.
Ia mengajak publik untuk lebih bangga mengoleksi karya anak bangsa dibandingkan hanya mengoleksi produk impor.
Menurutnya, karya seni adalah simbol kekuatan budaya dan identitas bangsa yang harus dijaga dan dipromosikan bersama.
“Apa gunanya kita bangga dengan barang impor jika kita belum bangga dengan karya seni bangsa sendiri. Seni rupa Indonesia adalah kekayaan yang harus kita tampilkan sebagai kebanggaan nasional,” tegasnya.
Ia berharap melalui kolaborasi antara pemerintah, institusi seni, akademisi, dan masyarakat, karya seni Indonesia dapat menjadi jiwa bangsa sekaligus sumber inspirasi bagi generasi mendatang.
“Karya seni harus hidup di tengah masyarakat, memberi inspirasi, dan memperkuat jati diri bangsa,” pungkas Supadma Rudana. (wie)



