Usulkan RUU Permuseuman, Supadma Rudana: Payung Hukum Melindungi Artefak dan Museum di Indonesia
Putu Supadma Rudana

GIANYAR – VISIBALI.COM. Indonesia memiliki seni budaya yang kuat. Ini adalah modal besar untuk bersanding dan bertanding dengan bangsa lain. Hal itu diungkapkan President The Rudana Art Institution, Putu Supadma Rudana, Rabu (1/4/2026). Bahkan ia menilai Indonesia memiliki kekayaan peradaban yang luar biasa.
“Mulai dari peninggalan manusia purba, lukisan gua prasejarah, situs megalitik, hingga artefak kerajaan besar seperti Sriwijaya, Tarumanegara, Kutai, Medang, Singasari, Mataram, dan Majapahit,” ujar Supadma Rudana yang juga sebagai Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia yang menaungi lebih dari 500 museum. Belum lagi kekayaan maestro seni dan tradisi budaya Nusantara yang dinilai dapat menjadi kekuatan Indonesia untuk bersaing di dunia, sambungnya.
Berangkat dari inilah kemudian Supadma Rudana juga mengusulkan pembentukan RUU Permuseuman sebagai payung hukum untuk melindungi artefak dan museum di Indonesia.
Menurutnya, Indonesia sudah memiliki Undang-Undang Cagar Budaya dan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, namun belum memiliki regulasi khusus yang mengatur museum sebagai rumah artefak.
RUU ini diharapkan dapat mengatur pengelolaan artefak, perlindungan warisan budaya, hingga repatriasi benda bersejarah dari luar negeri.
“Banyak artefak Indonesia yang masih berada di luar negeri. Museum harus menjadi rumahnya, sehingga RUU Permuseuman menjadi sangat penting,” katanya.
Ia berharap pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian Kebudayaan dapat mengawal regulasi ini dalam jangka menengah hingga panjang.
Supadma Rudana menekankan bahwa langkah awal untuk memperkuat kebudayaan adalah membangun regulasi, pendanaan, dan kolaborasi yang kuat.
Pemerintah pusat dan daerah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media harus bersatu untuk menjadikan kebudayaan sebagai jiwa pembangunan nasional.
“Kebudayaan adalah identitas dan kekuatan bangsa. Dengan kolaborasi dan dukungan regulasi, Indonesia bisa menjadi bangsa besar berbasis kebudayaan,” ujarnya.
Ia berharap Museum Rudana dan Rudana Art Institution dapat terus berkontribusi dalam mengangkat seni budaya Nusantara sebagai kekuatan global, sekaligus mendorong perdamaian dan kemanusiaan melalui kebudayaan.
Supadma Rudana juga menegaskan pentingnya museum dan seni budaya sebagai fondasi kemajuan bangsa. Melalui Museum Rudana di Ubud, Gianyar, ia mendorong sinergi lintas sektor agar kebudayaan menjadi jiwa pembangunan Indonesia.
Dikatakan,Museum Rudana merupakan bagian dari Rudana Art Institution yang menaungi berbagai lembaga seni, termasuk galeri, yayasan, pusat riset, serta lembaga dokumentasi kebudayaan.
Museum yang diresmikan Presiden Soeharto pada 26 Desember 1995 ini dibangun dengan filosofi Bali Tri Hita Karana dan Tri Angga, yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, serta keseimbangan struktur kepala, badan, dan kaki dalam arsitektur bangunan.
“Museum Rudana adalah rumah seni, rumah inspirasi, dan rumah abadi bagi kebudayaan Indonesia,” ujar Supadma Rudana.
Museum Rudana saat ini mengoleksi lebih dari 500 karya seni, terutama karya maestro seni rupa Bali. Di antaranya karya I Gusti Nyoman Lempad, Made Poleng, Kobot, Dewa Nyoman Batuan, Wayan Bendi, hingga berbagai seniman kontemporer Bali.
Selain museum, Rudana Art Institution juga memiliki Rudana Fine Art Gallery, yayasan seni, serta pusat penelitian dan dokumentasi kebudayaan bernama Destar.
Menurut Supadma Rudana, seluruh institusi ini dibangun untuk mengangkat, menggabungkan, dan mempercepat perkembangan seni budaya melalui kolaborasi lintas sektor.
Supadma Rudana menekankan pentingnya konsep pentahelix dalam pengembangan kebudayaan, yakni kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
Ia menyebut seni budaya dapat menjadi inspirasi dalam berbagai sektor pembangunan, mulai dari ekonomi, politik, pertahanan, hingga pendidikan.
“Ekonomi yang berbudaya akan melahirkan sistem yang adil dan berkelanjutan. Politik yang berbudaya bukan politik eksploitatif, tetapi politik yang menghargai meritokrasi dan membangun peradaban,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pertahanan dan keamanan berbasis budaya akan memperkuat semangat menjaga NKRI, sementara pendidikan berbudaya mampu melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki rasa dan estetika. (wie)



