PIB College dan Indonesia AI Society Perkuat Literasi AI Lewat Bali AI Summit 2026
PIB College

TABANAN – VISIBALI.COM. Penyelenggaraan Bali AI Summit 2026 di Poloteknik International Bali (PIB) College, Kamis (9/4/2026) diharapkan mampu memperkuat posisi Bali sebagai “regional AI hub” sekaligus membuka peluang investasi, riset, dan pengembangan talenta digital di Indonesia. Forum ini juga menjadi ruang kolaborasi bagi mahasiswa, profesional, entrepreneur, dan pemerhati teknologi yang ingin terlibat dalam transformasi ekonomi digital masa depan.
Ketua Indonesia AI Society, Hendy Risdianto Wijaya, menegaskan bahwa pertemuan Bali AI Summit bukan sekadar forum diskusi, tetapi wadah untuk menghasilkan solusi nyata yang dapat langsung diimplementasikan di dunia industri dan pendidikan.
“Pertemuan ini bertujuan menghasilkan sesuatu yang konkret dan bisa dimanfaatkan. Karena itu kami mengundang banyak praktisi agar peserta bisa melihat praktik langsung, termasuk bagaimana coding dengan AI meskipun bukan dari latar belakang teknologi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa implementasi AI tidak bisa dihindari, sehingga literasi menjadi faktor utama agar masyarakat mampu menggunakan teknologi secara tepat.
“Implementasi AI harus diiringi literasi. Orang yang menggunakan AI harus paham apa yang dikerjakan, karena AI bisa menghasilkan sesuatu yang salah jika tidak dipahami. Literasi inilah yang membantu kita menilai apakah hasil AI itu benar atau tidak,” jelasnya.
Hendy juga menyoroti pentingnya transparansi dalam penggunaan AI, terutama dalam dunia akademik dan publikasi ilmiah. Penggunaan AI diperbolehkan, tetapi harus disertai penjelasan proses dan *prompt* yang digunakan untuk menjaga originalitas dan pemahaman pengguna.
Sementara itu, Deputy Director PIB College, Dr. Paulus Herry Arianto, menjelaskan bahwa AI pada dasarnya merupakan teknologi co-creation, yaitu kolaborasi antara manusia dan mesin untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi di berbagai sektor ekonomi.
“AI tidak menggantikan manusia, tetapi membantu pekerjaan manusia. Konsepnya adalah co-creation, sehingga manusia tetap menjadi aktor utama dalam ekonomi digital,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa PIB College mengintegrasikan AI dalam program bisnis digital yang berfokus pada sektor pariwisata, hospitality, dan gastronomi. Teknologi AI dapat digunakan untuk menciptakan sistem layanan, analisis kebutuhan wisatawan, hingga inovasi produk kuliner.
“Implementasi AI di bidang tourism dan hospitality akan membuka peluang baru dalam ekonomi kreatif dan digital. Ini menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem ekonomi berbasis teknologi,” katanya. AI bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru dengan pemahaman yang tepat, AI dapat mengangkat potensi masyarakat, UMKM, dan generasi muda untuk berkembang lebih jauh di era ekonomi digital, imbuhnya.
Direktur PIB College, Prof. Anastasia Sulistyawati, menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam pengembangan AI adalah membangun kesadaran dan kepercayaan masyarakat terhadap teknologi.
“Banyak orang masih takut digantikan oleh AI. Padahal, jika literasi dan pemahaman dibangun dengan baik, AI justru bisa membuka peluang baru, termasuk bagi UMKM dan generasi muda,” jelasnya.

Ia mencontohkan bahwa AI mampu membuka peluang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk berkarya di industri digital.
Melalui Bali AI Summit 2026, Indonesia AI Society bersama PIB College menargetkan Bali menjadi “regional AI hub” yang mampu mendorong investasi, riset, serta pengembangan talenta digital di Indonesia.
Dalam diskusi tersebut, para akademisi juga menyoroti bahwa AI kini mulai dipandang sebagai aktor semu dalam ekonomi, namun belum dapat diakui sebagai subjek hukum karena belum memiliki tanggung jawab atas keputusan yang dihasilkan.
Fenomena ini dikenal sebagai “black box syndrome”, yaitu kondisi di mana pengguna hanya mengetahui input dan output AI tanpa memahami proses di dalamnya. Karena itu, pemahaman dan transparansi menjadi faktor penting dalam pengembangan teknologi.
Para pembicara menekankan bahwa tantangan utama pengembangan AI adalah membangun kesadaran masyarakat. Banyak orang masih takut kehilangan pekerjaan akibat AI, padahal teknologi ini justru dapat membuka peluang baru.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah pengalaman mahasiswa dari berbagai latar belakang non-teknologi yang mampu menciptakan produk digital seperti game dalam waktu singkat dengan bantuan AI. Bahkan, sebagian di antaranya berhasil masuk ke industri kreatif global.
Bali AI Summit 2026 juga diharapkan mampu mendorong pemberdayaan UMKM melalui pemanfaatan teknologi AI, sehingga pelaku usaha kecil dapat meningkatkan daya saing dan masuk ke pasar digital global.
Melalui kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah, forum ini menjadi momentum untuk mempercepat transformasi digital di Indonesia, sekaligus memperkuat peran Bali sebagai pusat inovasi teknologi dan ekonomi kreatif di kawasan regional. (wie)



