
DENPASAR – VISIBALI.COM. BPS Provinsi Bali minggu lalu merilis data terbaru pertumbuhan ekonomi Bali Triwulan IV-2025 yang kembali menunjukkan kinerja solid. Rilis ini penting karena menjadi “penutup” resmi capaian ekonomi Bali sepanjang 2025—sekaligus pijakan awal untuk membaca arah 2026. Angkanya menegaskan bahwa pemulihan Bali bukan sesaat, melainkan bergerak konsisten dan semakin matang. Hal ini diungkapkan Pengamat Ekonomi, Trisno Nugroho, di Denpasar, Senin (9/2/2026)
Trisno Nugroho, mencatat Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Bali terbukti stabil tinggi di setiap triwulan dan menutup tahun dengan performa yang tetap kuat. Lebih dari sekadar angka, capaian ini menunjukkan fondasi pertumbuhan yang kian kokoh setelah melewati periode penuh tantangan, dan memberi keyakinan bahwa Bali mampu menjaga ritme pembangunan—asal dikelola dengan disiplin dan arah yang jelas.
“Secara kumulatif, perekonomian Bali tumbuh 5,82% sepanjang 2025, menempatkan Bali dalam lima besar provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia,” ungkap Mantan Kepala BI Bali, ini.
Menurutnya, ini adalah pesan penting: Bali bukan hanya pulih, tetapi kembali menjadi salah satu motor pertumbuhan nasional. Momentum ini harus dijaga bersama, karena pertumbuhan yang stabil adalah syarat utama untuk melahirkan peluang kerja, menguatkan usaha, dan mendorong investasi yang sehat.
“Yang lebih penting, pertumbuhan mulai terasa dampaknya,” cetusnya.
Pada September 2025, tingkat kemiskinan Bali tercatat 3,42%, turun dibanding periode sebelumnya, bahkan lebih baik dibanding 2019. Ini menandakan bahwa ekonomi yang membaik mulai berkontribusi pada kesejahteraan warga. Di sinilah makna pertumbuhan yang kita kejar: bukan semata besar angkanya, tetapi seberapa jauh ia menyejahterakan masyarakat dan memperkuat ketahanan sosial.
Namun demikian, katanya tahun 2026 bukan tahun yang mudah. Dunia sedang menghadapi ketidakpastian: tensi geopolitik, perubahan kebijakan ekonomi negara besar, risiko perlambatan global, hingga fluktuasi harga energi dan kurs. Dalam kondisi seperti ini, pariwisata dan ekonomi daerah yang terbuka seperti Bali bisa cepat terkena dampaknya—baik dari sisi minat perjalanan, biaya transportasi, maupun daya beli pasar wisata utama.
“Di tengah tantangan global itu, peluang Bali justru terbuka lebar jika kita naik kelas. Bali perlu memperkuat pariwisata berkualitas: bukan hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi meningkatkan nilai tambah—lama tinggal, belanja per wisatawan, MICE dan event, wellness, serta pengalaman budaya-alam yang terkurasi. Kuncinya adalah menjaga kualitas destinasi, keamanan, kebersihan, dan tata kelola yang tertib sehingga Bali unggul tanpa harus terjebak perang Harga,” imbuhnya.
Karena itu, pesan untuk 2026 jelas: Bali tidak boleh lengah. Kita perlu bekerja lebih keras sekaligus lebih cerdas—menjaga daya dukung lingkungan, menertibkan ruang, membangun infrastruktur dasar (air, sampah, transport), serta memperkuat kualitas SDM dan layanan.
“Jika momentum 2025 dijaga dengan disiplin kolektif, Bali bukan hanya akan tumbuh, tetapi akan tumbuh dengan kualitas—lebih tangguh menghadapi dunia, dan lebih adil bagi warganya,” pungkasnya. (red)



