
BANGLI – VISIBALI.COM. Kalau akhir tahun itu identik dengan kembang api, pesta semalam suntuk, dan posting Instagram yang penuh filter glitter maka Penglipuran memilih jalannya sendiri: adem, hijau, penuh budaya, dan yang paling penting tidak bikin lingkungan stres.
Desa Wisata Penglipuran bersiap menyambut Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 dengan gaya yang sangat “Penglipuran banget”: hangat, rapi, wangi bambu, dan penuh gotong-royong warga yang bikin kita mikir, “Oh, ternyata keharmonisan itu masih ada di dunia ini.”
General Manager Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, Minggu (7/12/2025) bilang begini, “Akhir tahun itu selalu rame. Jadi kami bukan cuma nambah atraksi, tapi memastikan wisatawan yang datang itu juga ikut jaga alam, budaya, sama kehidupan warga.” Terjemahan bebasnya – boleh datang, tapi jangan jadi beban hidup.
Bahkan, Penglipuran tak hanya mempertahankan status sebagai desa wisata berkelanjutan. Mereka naik kelas menuju “pariwisata regenerative”. Artinya? Wisatawan bukan cuma tidak merusak, tapi malah bantu nambah kebaikan. Ibarat makan di warung, bukan cuma nggak makan aja, tapi sekalian bersih-bersih juga.
Sumiarsa juga menjelaskan beberapa agenda yang bakal ditemui saat di penglipuran, seperti: Parade, Teater, dan Bambu.
1. Parade Barong Macan (27 Desember 2025); Lebih dari 15 Barong Macan akan lewat di jalan utama desa. Bukan barong fake-fake-an, tapi dibawakan oleh seniman lokal dan penabuh muda yang jumlahnya bikin banjar ikut bangga. Ini bukan sekadar tontonan, tapi sesi “regenerasi seni level dewa”—generasi muda dilibatkan dari depan sampai belakang panggung.
2. Teater Tetantria Macan Gading (28 Desember–1 Januari); Tiap sore sampai malam tahun baru, Penglipuran menghadirkan drama teatrikal yang isinya perpaduan tari, musik tradisional, dan pesan moral yang nggak menggurui. Karya komunitas Yowana Putra Yudha ini mengajak kita agar berani, kompak, dan tidak sombong sama alam. Kalau ketemu sungai bersih, jangan langsung bikin konten sambil masukin kaki seenaknya.
3. Dekorasi Bambu: Zero Plastik, Zero Ribet; Di saat banyak tempat masih dekorasi pakai plastik bling-bling yang habis tahun baru langsung jadi sampah, Penglipuran memilih bambu dan bahan alami. Selain estetik, sekaligus mempertegas branding: **ini desa bambu, bukan desa sampah.

4. Bamboo Café: Makan Lokal, Musik Adem; Menu ala desa, ‘loloh cemcem’, dan suasana hutan bambu. Plus akustikan yang bikin suasana makin mellow. Cocok buat yang ingin melewati tahun baru tanpa teriakan “3…2…1…” yang lebih mirip countdown utang.
5. Pengaturan Wisata yang Lebih Tertib; Petugas ditambah, jalur masuk-keluar dibagusin, area parkir ditata, bahkan papan edukasi pariwisata hijau dipasang. Semua demi satu tujuan: wisatawan nyaman, warga tetap bisa tidur nyenyak.
“Ini penting karena akhir tahun biasanya jadi ajang uji kesabaran: wisatawan numpuk, parkir susah, dan kadang lupa sopan santun. Penglipuran ingin memastikan hal itu tidak terjadi,” tukas Sumi.
Menurut Sumiarsa, minat wisatawan terhadap eco-travel makin naik. Banyak orang tiba-tiba ingin jadi “pecinta alam” meski biasanya naik tangga dua lantai saja ngos-ngosan. Untungnya, Penglipuran menawarkan paket komplit: budaya, alam, kuliner, dan pengalaman hidup berdampingan dengan adat.
Makanya Sumiarsa ngingetin lagi, “Datanglah bukan cuma untuk foto-foto. Tapi juga hormati adat, dukung UMKM, jaga kebersihan, dan jadi bagian dari gerakan pariwisata regeneratif.”
Dengan semua persiapan, inovasi, dan kemauan untuk tetap hijau di tengah hiruk pikuk liburan, Penglipuran membuktikan satu hal: desa wisata itu bukan cuma tempat untuk selfie, tapi ruang hidup yang harus dirawat bersama.
Tahun baru bisa dirayakan dengan musik akustik, teater desa, Barong Macan, dan udara segar yang tidak dijual dalam tabung. Penglipuran mengajak kita merayakan Natal dan tahun baru dengan cara yang lebih beradab, lebih sadar, dan tentu saja lebih instagrammable tanpa “feeling guilty” alias merasa bersalah. (wie)



