Diskusi Ngawulo Batu Siwa Graha di Badung, Inspirasi dari Majapahit hingga Bali
Omah Blumbungan

BADUNG – VISIBALI.COM. Komunitas arsitektur dan budaya kembali menghidupkan ruang dialog tentang warisan leluhur lewat kegiatan “Ngawulo Batu Candi Siwa Graha” yang digelar di Omah Blumbungan, Kabupaten Badung, Sabtu (14/2/2026).
Founder Omah Blumbungan, Ida Bagus Alita, mengatakan kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik lahirnya diskusi-diskusi lanjutan mengenai pemuliaan arsitektur Bali. Menurutnya, perkembangan arsitektur Bali tak bisa dilepaskan dari proses saling menginspirasi dengan Jawa, terutama sejak masa Kerajaan Majapahit.
“Harapan kami, tempat ini bisa menjadi embrio untuk menggali kembali nilai-nilai arsitektur warisan leluhur. Bukan sekadar bentuk fisik, tetapi filosofi hidup di dalamnya,” ujarnya.
Awalnya, diskusi dirancang berlangsung di ruang terbuka halaman natah. Namun karena hujan, acara dipindahkan ke dalam ruangan sederhana. Meski begitu, Alita berharap situasi tersebut tak mengurangi kedalaman gagasan yang lahir.
Ia menjelaskan, Omah Blumbungan dibangun sekitar enam tahun lalu atas dasar kekaguman terhadap arsitektur tradisional Bali. Menariknya, bangunan ini mengadopsi tipikal rumah masyarakat dengan strata sosial sederhana, yakni rumah petani.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Dalam pandangan Alita, justru pada hunian sederhana tersimpan harmoni tata ruang yang kuat—relasi manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan nilai spiritual.
“Dari material pun memanfaatkan apa yang ada di sekitar. Itu yang sekarang sering kita sebut kearifan lokal,” katanya.
Berbagai elemen khas seperti bale, lumbung, dapur, hingga ruang suci ditata mengikuti konsep tradisi. Beberapa penyesuaian dilakukan, misalnya penggunaan atap genteng karena keterbatasan bahan alang-alang. Namun secara prinsip, orientasi dan nilai tetap dijaga.
Selama ini, Omah Blumbungan kerap dimanfaatkan sebagai lokasi belajar. Sejumlah kampus, siswa SMA hingga SMP datang untuk mempelajari dokumentasi arsitektur, pembuatan film pendek, sampai pendalaman tata ruang tradisional.
Alita berharap rumah tersebut berkembang menjadi ruang penggalian jati diri, tempat lahirnya karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
“Kami ingin tempat ini terbuka, menjadi ruang belajar bersama,” ucapnya.
Acara yang dipadu Rochtri Agung Bawono, menghadirkan narasumber, Dr. I Gusti Ngurah Anom menekankan bahwa pembangunan maupun pemugaran bangunan suci tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada pembagian keahlian yang jelas, mulai dari aspek teknis hingga religius.
Setiap proses, katanya, membutuhkan orang yang benar-benar memahami perannya, baik terkait perhitungan hari, ukuran, hingga jenis ornamen yang digunakan.
Ia juga mengingatkan agar manusia tidak merasa paling tahu terhadap alam dan benda di sekitarnya. Sebaliknya, manusia harus belajar agar keberadaan bangunan memberi manfaat bagi dirinya sekaligus masyarakat.
Dalam diskusi, muncul pula pandangan bahwa pelestarian candi di Bali bisa belajar dari Candi Prambanan. Kompleks candi di Jawa itu dianggap menyimpan kesamaan nilai tata ruang dan upacara.
Pengaruh sejarah dari era Majapahit dinilai menjadi salah satu jembatan kemiripan tersebut. Karena itu, rekonstruksi atau studi terhadap arsitektur Jawa dipandang relevan sebagai referensi, tentu tanpa meninggalkan identitas Bali.
Kegiatan Ngawulo Batu ini pun diharapkan tak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi berlanjut menjadi gerakan nyata merawat dan mengembangkan warisan budaya sesuai tuntutan zaman. (wie)



