Sawah Tetap Lestari, Rakyat Tetap Sejahtera: Pansus TRAP Siapkan Skema Penyelamatan Jatiluwih
DPRD Bali

DENPASAR – VISIBALI.COM. Pemerintah Provinsi Bali melalui Panitia Khusus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali mengambil langkah tegas untuk menjaga kelestarian kawasan Jatiluwih, Tabanan—ikon sawah terasering Bali yang telah diakui dunia sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) UNESCO sejak 2012.
Ketua Pansus TRAP, I Made Supartha, menegaskan bahwa pengawasan ini bukan semata bentuk intervensi terhadap pembangunan, tetapi upaya memastikan agar identitas budaya dan lanskap pertanian Bali tidak tergeser oleh maraknya pembangunan beton yang mulai merangsek ke area persawahan. Apalagi, Jatiluwih kembali mengharumkan nama Indonesia setelah terpilih sebagai “Desa Terbaik Dunia versi UN Tourism tahun 2024”
Penyempitan lahan sawah akibat alih fungsi menjadi bangunan dinilai mengancam nilai universal Jatiluwih sebagai lanskap agraris tradisional Bali. Jika tidak dikendalikan, Supartha mengingatkan status WBD bisa saja dicabut oleh UNESCO—sebuah kerugian besar bagi Bali dan masyarakat setempat.
“Keindahan sawah terasering di Jatiluwih itu tidak ada tandingannya di dunia. Ini anugerah. Kalau sampai rusak karena pembangunan yang tidak tertata, status UNESCO bisa hilang. Kita semua rugi,” ujarnya, Sabtu (6/12/2025).
Pansus TRAP memastikan seluruh dinamika yang terjadi di lapangan, termasuk aksi warga memasang seng atau plastik penutup, tetap mendapatkan perhatian serius. Menurut Supartha, tindakan seperti itu dapat merusak citra Jatiluwih di mata wisatawan.
“Sampai ada pembatalan kunjungan, ini kan merusak lumbung padi sendiri. Jatiluwih dan Bali ikut kena,” imbuhnya.
Satpol PP Bali dijadwalkan untuk memanggil pemilik restoran yang diduga melanggar aturan tata ruang, sembari menunggu tindak lanjut dari OPD terkait.
Setelah penutupan beberapa bangunan bermasalah, Pansus kini menyiapkan sejumlah skema penyeimbangan antara pelestarian dan kesejahteraan warga. Intinya, Jatiluwih harus tetap lestari sebagai WBD UNESCO, sekaligus menjadi sumber ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat lokal.
Beberapa gagasan yang tengah dibahas Pansus antara lain: Penataan Rumah Penduduk Menjadi Homestay Berstandar Internasional. Dimana rumah-rumah warga akan diarahkan menjadi homestay berkualitas, dikelola langsung oleh masyarakat. Ini bertujuan agar keuntungan pariwisata tidak hanya dinikmati pemodal besar; Restoran Desa yang Menonjolkan Kuliner Lokal dan Higienis, yng didesain mengikuti karakter desa, dengan menu tradisional Bali yang lebih terjamin kebersihannya; Wisata Pertanian Berbasis Pengalaman; Wisatawan akan diajak ikut menanam padi, metekap, manyi, mandi lumpur, hingga menangkap belut. Atraksi ini diharapkan memberi nilai tambah ekonomi bagi petani.
Supartha juga mengingatkan bahwa UNESCO masih memberi kelonggaran berupa pembangunan struktur kecil seluas 3 × 6 meter, yang dikenal sebagai “badan sampi” (kandang sapi). Area ini dapat dimanfaatkan petani untuk usaha kecil, seperti: kedai kopi, penjualan jajanan Bali, kelapa muda atau produk lokal lainnya.
“Konsep ini harus artistik dan tetap milik pemilik lahan, bukan investor luar. Kecil, tetapi bisa jadi sumber kesejahteraan,” kata Supartha.
Selain itu, petani sebagai penjaga utama bentang alam Jatiluwih, juga akan mendapatkan perhatian khusus. Pansus tengah menyiapkan sejumlah insentif, seperti: bantuan benih dan pupuk, perbaikan irigasi, keringanan pajak, perlindungan asuransi pertanian, penguatan sistem subak, serta dukungan pemasaran hasil panen.
Bahkan, terdapat wacana pemberian beasiswa “satu KK satu sarjana” untuk keluarga pemilik lahan agar manfaat ekonomi dirasakan secara langsung dan berkelanjutan.
Supartha menegaskan bahwa seluruh langkah ini disiapkan untuk memastikan Jatiluwih tetap menjadi ikon dunia yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyejahterakan masyarakatnya.
“Sawahnya lestari, budayanya hidup, rakyatnya sejahtera. Itu tujuan utama,” pungkasnya. (red)



