Pengelola Jatiluwih Soroti Dampak Seng terhadap Pariwisata dan UNESCO
DTW Jatiluwih

DENPASAR – VISIBALI.COM. Kisruh pemasangan seng oleh oknum warga di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, kembali menuai sorotan. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Panitia Khusus Tata Ruang, Pemerintah Kabupaten Tabanan, serta perwakilan masyarakat setempat di DPRD Bali, pengelola DTW Jatiluwih, John K. Purna, Jumat (19/12/2025), menyampaikan peringatan keras atas dampak yang ditimbulkan.
John menegaskan, pemasangan seng di kawasan Jatiluwih bukanlah solusi, melainkan ancaman serius bagi keberlangsungan pariwisata. Menurutnya, tindakan tersebut sama saja dengan “mematikan” pariwisata Jatiluwih yang selama ini dikenal luas hingga mancanegara.
“Yang saya komentari hanya soal seng. Menurut saya itu bukan solusi. Justru merusak citra pariwisata Jatiluwih dan merugikan seluruh masyarakat, bukan hanya saya sebagai pengusaha atau manajer, tetapi seluruh akomodasi yang ada di Jatiluwih,” ujarnya di hadapan anggota dewan.
Ia mengungkapkan, dampak pemasangan seng sudah terasa signifikan terhadap angka kunjungan wisatawan. Jika sebelumnya Jatiluwih mampu menerima 800 hingga 1.000 wisatawan, kini jumlah tersebut merosot tajam.
“Sekarang logikanya paling dapat 100 sampai 150 pengunjung. Dulu kami bisa menerima 800, 700 sampai 1.000 tamu, bahkan di musim sepi (low season),” ungkap John.
Penurunan ini, lanjutnya, bukan sekadar asumsi. Ia mengaku telah berdiskusi langsung dengan pelaku perjalanan wisata, termasuk agen perjalanan dari Eropa, khususnya Jerman. Bahkan, sejumlah grup wisata besar disebut sudah menyampaikan kekhawatiran atas kondisi tersebut.
“Ini bukan saya bicara tanpa dasar. Saya sudah bertemu dengan travel besar dari Jerman dan Eropa. Mereka menyampaikan bahwa kondisi ini sangat mengganggu minat kunjungan. Jadi kalau Jatiluwih kelak sepi bukan tanggung jawab saya,” tandasnya.

Lebih jauh, John mengingatkan bahwa persoalan ini tidak hanya berdampak pada ekonomi lokal, tetapi juga berpotensi mengancam status Jatiluwih sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) UNESCO. Menurutnya, perubahan visual dan tata ruang yang tidak sesuai prinsip pelestarian bisa menjadi catatan serius bagi lembaga dunia tersebut.
Ia pun berharap ada langkah cepat dan tegas dari pihak berwenang, termasuk DPRD Bali dan pemangku kebijakan terkait, untuk menertibkan persoalan tersebut. John mengusulkan agar pemasangan seng setidaknya dikurangi atau dihentikan sementara demi menjaga kepentingan bersama.
“Saya berharap permintaan desa dan LPMK bisa dibicarakan bersama-sama, tapi jangan sampai mengganggu keseluruhan masyarakat. Masalah hukum yang melibatkan 13 orang silakan dibahas, tapi jangan sampai merusak pariwisata secara menyeluruh,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, John mengaku pesimistis jika kondisi ini terus dibiarkan. Selain mengganggu secara visual, seng disebut sangat menyilaukan dan merusak lanskap persawahan yang menjadi daya tarik utama Jatiluwih.
“Kalau dibiarkan, saya sangat pesimis. Ini benar-benar mengganggu kunjungan wisata. Mudah-mudahan pihak yang punya kewenangan bisa segera mengambil tindakan,” ucapnya, seraya menegaskan kalau hal itu dibiarkan maka tak ayal ibaratnya “bunuh diri” pariwisata Jatiluwih. “Semua pasti akan mati,” pungkasnya. (wie)



