Doa Srihadi Sudarsono untuk Putu Supadma Rudana, “Putra Nusantara” yang Sarat Makna
Putu Supadma Rudana

GIANYAR -VISIBALI.COM. Kenangan terhadap maestro seni rupa Indonesia, Srihadi Sudarsono, masih melekat kuat dalam ingatan Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia sekaligus President The Rudana Art Institution, Putu Supadma Rudana. Bagi Supadma, Srihadi bukan hanya seniman besar, tetapi juga figur yang meninggalkan pesan mendalam tentang profesionalitas, dedikasi, dan peradaban seni Indonesia.
Salah satu momen yang paling berkesan terjadi pada 4 Desember 2010, ketika Srihadi Sudarsono memberikan sebuah karya khusus kepada Supadma Rudana. Karya tersebut berbeda dari lukisan Srihadi pada umumnya. Tidak menggunakan warna cat minyak yang kaya, karya itu justru hadir dalam komposisi hitam putih dengan gradasi abu-abu yang sederhana namun sarat makna.
Di dalam karya tersebut, terdapat doa dari Srihadi dan keluarganya yang menyebut Supadma Rudana sebagai “Putra Nusantara.”
Menariknya, kata “Nusantara” dalam karya tersebut muncul jauh sebelum nama Nusantara ditetapkan sebagai ibu kota negara Indonesia. Bagi Supadma, hal itu menunjukkan kedalaman pemikiran dan kepekaan seorang maestro dalam membaca perjalanan sejarah dan peradaban.
“Maestro adalah manusia yang memiliki kepekaan rasa dan kedalaman pemikiran luar biasa, bahkan bisa menjangkau ruang sejarah,” ujar Supadma Rudana, Rabu (1/4/2026).
Supadma Rudana menilai Srihadi Sudarsono merupakan contoh nyata seniman dengan profesionalitas tinggi. Menurutnya, seorang maestro tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menjaga konsistensi kualitas sepanjang hidupnya.
“Seniman hebat harus memiliki jiwa profesionalitas yang tinggi, karena ia mengelola dirinya dalam berkarya dan menjaga agar karyanya tetap berada pada kualitas terbaik, tidak naik turun,” jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa sejak 2005 dirinya secara konsisten mempromosikan karya Srihadi melalui berbagai pameran seni, baik pameran tunggal maupun pameran bersama dengan seniman lain dari seluruh Indonesia.
Meski saat itu usia Srihadi telah mendekati 90 tahun, semangat berkarya sang maestro tidak pernah surut. Karya-karyanya tetap hadir dan mewarnai berbagai ruang seni di Indonesia maupun dunia.
“Beliau adalah seniman terhebat Indonesia pada masanya, dan sampai sekarang karya-karyanya tetap hidup dan memberi warna di berbagai tempat,” katanya.
Menurut Supadma Rudana, Srihadi Sudarsono meninggalkan pesan penting bagi generasi seniman Indonesia, terutama tentang profesionalitas dan proses berkarya yang serius.
Srihadi selalu menekankan bahwa karya seni tidak boleh dipamerkan secara sembarangan. Seniman harus memahami ruang pamer yang tepat, seperti museum dan galeri, agar kualitas dan martabat karya tetap terjaga.
“Pameran tidak boleh sembarangan. Karya harus dipamerkan di tempat yang mulia seperti museum dan galeri,” ujarnya.
Selain itu, karya seni juga harus dijaga dan dirawat dengan baik agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Supadma Rudana menegaskan bahwa museum merupakan rumah tertinggi dan rumah abadi bagi para maestro seni Indonesia. Museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan karya, tetapi juga ruang peradaban yang menjaga warisan budaya bangsa.
“Rumah abadi seorang maestro adalah museum. Karya mereka harus dirawat dan ditempatkan di museum, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia,” tegasnya.
Ia berharap semangat Srihadi Sudarsono dapat menjadi inspirasi bagi generasi seniman Indonesia untuk terus berkarya, menjaga profesionalitas, dan membangun peradaban seni yang kuat.
“Karya maestro adalah warisan peradaban. Tugas kita adalah menjaga, merawat, dan mempromosikannya agar tetap hidup untuk generasi masa depan,” pungkas Supadma Rudana. (wie)
——————



