Jejak Erika Sedana: Membawa Nama Bali dari Layar Kaca hingga Panggung Global

DENPASAR – VISIBALI.COM. Nama Made Herry Erika Sedana, M.Tr.Par., M.Sc., mungkin tidak asing bagi sebagian masyarakat Bali, khususnya mereka yang pernah mengikuti program pariwisata di TVRI Bali pada awal tahun 2000-an. Namun perjalanan perempuan yang kini menyandang gelar Magister Terapan Pariwisata dan Master of Science itu ternyata jauh melampaui layar televisi.
Dari studio TVRI Bali, panggung pertemuan G20, ruang kelas internasional, hingga penelitian tentang keberlanjutan industri event, Erika membuktikan bahwa rasa ingin tahu dan semangat belajar mampu membuka jalan menuju berbagai kesempatan global. Meski demikian, seluruh pengalamannya selalu bermuara pada satu tujuan: memberikan kontribusi bagi Bali.
Karier Erika dimulai di industri MICE (Meeting, Incentive, Conference and Exhibition) bersama Pacific World. Pada waktu yang sama, ia juga mengawali kiprahnya sebagai pembaca berita dan presenter program Balivision di TVRI Bali.
Selama 12 tahun, ia tidak hanya tampil membacakan naskah berita di depan kamera. Erika terjun langsung ke berbagai sudut Bali untuk mengangkat kisah-kisah autentik tentang pariwisata, budaya, dan kehidupan masyarakat. Mulai dari hamparan sawah, pasar tradisional, pura, hingga panggung seni pertunjukan menjadi bagian dari liputan yang ia hadirkan kepada pemirsa.
Melalui berbagai wawancara dengan pelaku industri pariwisata, ia turut membantu memperkenalkan potensi Bali sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan pengalaman wisatawan.
“Komunikasi pariwisata bukan sekadar menjual destinasi, tetapi bagaimana menjembatani cerita Bali agar dipahami dunia dengan cara yang menghormati budaya dan masyarakatnya,” menjadi prinsip yang terus ia pegang.
Minat Erika terhadap dunia public speaking sebenarnya telah muncul sejak usia 15 tahun saat masih duduk di bangku SMP. Pengalaman menjadi pembawa acara di berbagai kegiatan sekolah perlahan berkembang menjadi keahlian profesional yang membawanya ke panggung internasional.
Kemampuan tersebut mengantarkannya menjadi moderator dan master of ceremony dalam berbagai forum penting, mulai dari pertemuan Menteri G20, rapat kepresidenan Republik Indonesia, kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Asian Development Bank (ADB), APEC, IMF hingga US-DEA.
Berbekal pengalaman sebagai jurnalis, Erika dikenal tidak hanya mampu membawakan acara dengan baik, tetapi juga memahami substansi diskusi yang berlangsung. Kemampuannya menggali isu dan mengajukan pertanyaan yang tepat membuat berbagai forum formal terasa lebih hidup dan komunikatif.
“Menjadi MC itu soal mendengar dengan empati. Kalau kita mendengar audiens dengan hati, acara akan hidup dengan sendirinya,” ujarnya.
Saat ini Erika aktif sebagai Director of Partnership & Events di PIB College atau Politeknik Internasional Bali. Selain itu, ia juga rutin mengajar mahasiswa internasional sebagai dosen tamu di Universitas Udayana untuk mata kuliah Entrepreneurship dan Doing Business in Bali.
Semangat belajar yang tidak pernah padam membawanya kembali ke dunia akademik. Kini ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) Vokasi di Politeknik Negeri Bali di bawah bimbingan tiga profesor.
Fokus penelitiannya mengarah pada pengembangan metrik Green Events di Bali dan Singapura, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence dalam industri event. Menurutnya, konsep keberlanjutan harus diukur secara nyata agar tidak berhenti pada slogan atau label semata.
Ia ingin memastikan bahwa berbagai klaim “ramah lingkungan” benar-benar memberikan dampak bagi lingkungan dan masyarakat, bukan sekadar menjadi strategi pemasaran.
Sebelum kembali fokus pada dunia pendidikan dan penelitian, Erika menghabiskan satu dekade kariernya di DHL Express dan DHL Global Forwarding. Ia meniti karier dari posisi Account Executive hingga dipercaya menjadi Country Retail Manager sekaligus Asia-Pacific Facilitator.
Selama bekerja di perusahaan logistik multinasional tersebut, Erika meraih sembilan penghargaan tingkat nasional dan Asia-Pasifik. Pengalaman tersebut membentuk kemampuan manajerial, pemahaman bisnis, serta rasa tanggung jawab yang kuat dalam setiap pekerjaan yang dijalani.
Kini, ia juga mengelola perusahaan jasa kargo di Bali yang membantu berbagai pelaku industri pariwisata, mulai dari hotel, DMC, penyelenggara MICE hingga Professional Conference Organizer (PCO), dalam mengurus kebutuhan ekspor-impor untuk pelaksanaan event internasional di lebih dari 200 negara.
Pengalaman di sektor logistik global itu pula yang mendorongnya menempuh pendidikan magister di Angers, Prancis, serta mengikuti program micro-credential di Melbourne, Australia.
Di luar dunia profesional, Erika juga aktif dalam kegiatan sosial melalui Rotary Club of Bali Seminyak sejak 2009. Ia pernah menjabat sebagai presiden klub selama dua periode, yakni 2018-2019 dan 2021-2022.
Salah satu pencapaian pentingnya adalah saat memimpin penyelenggaraan Rotary District Conference hybrid pertama di Indonesia pada masa pandemi tahun 2021 yang diikuti sekitar 450 peserta. Kegiatan tersebut melibatkan anggota dari berbagai negara dan menjadi bukti bahwa kolaborasi tetap dapat berjalan meski di tengah keterbatasan.
Bagi Erika, Rotary bukan sekadar organisasi sosial, melainkan wadah nyata untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat Bali.
Perjalanan panjang dari studio TVRI, dunia logistik internasional, panggung diplomasi global, ruang akademik hingga kegiatan sosial tersebut menunjukkan satu benang merah yang konsisten: dedikasi untuk Bali.
Ia berharap generasi muda Bali memiliki keterampilan, jaringan internasional, dan karakter kuat untuk bersaing di tingkat global tanpa kehilangan akar budaya dan identitasnya.
Perempuan yang pernah meraih predikat lulusan terbaik, cum laude sekaligus valedictorian di Politeknik Negeri Bali itu menegaskan bahwa proses belajar tidak mengenal batas usia.
“Belajar tidak ada pensiunnya. Dari umur 15 tahun menjadi MC sampai sekarang menempuh S3, saya masih mahasiswa. Yuk, tetap semangat menambah ilmu,” tutup Erika. (red)



