Sanggar Dhanan Jaya Angkat Kisah “Kresna Duta Durjana” di Parade Wayang Kulit PKB XLVIII 2026

MANGUPURA – VISIBALI.COM – Sanggar Seni Dhanan Jaya, Banjar Pengayehan, Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi tampil sebagai Duta Seni Kabupaten Badung dalam Utsawa (Parade) Wayang Kulit dengan lakon klasik berjudul Kresna Duta Durjana pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Pementasan berlangsung di Depan Gedung Kria, Art Center Denpasar, Senin 6 Juli 2026 malam.
Kisah Kresna Duta Durjana diambil dari epos Mahabarata yang menceritakan dilema Maha Raja Yudistira yang harus berperang melawan saudara, keluarga, dan gurunya sendiri.
Atas desakan Bima dan nasihat Prabu Kresna, Yudistira diyakinkan bahwa kejahatan harus ditumpas demi tegaknya dharma. Puncak cerita terjadi saat Kresna menegaskan kepada Yudistira bahwa yadnya seorang ksatria adalah di medan perang.
“Karena sang ksatria yadnya-nya adalah di medan perang. Mati mendapatkan swarga, hidup akan mendapatkan kejayaan. Maka dari itu, sang ksatria tidak boleh mundur dalam medan peperangan. Hidup dan mati harus dipertaruhkan di sana,” ujar Dalang sekaligus Ketua Sanggar Dhanan Jaya, I Made Ariawan.
Menurut Made Ariawan, pemilihan lakon Kresna Duta Durjana selaras dengan tema PKB ke-48 yakni Atma Kerthi.
“Begitu juga dalam tema Atma Kerthi ini, kita harus memberikan jalannya atma bagaimana perjalanan atma itu agar menemukan tempat yang terbaik,” katanya.
Lebih lanjut ia menyampaikan pesan moral dari lakon yang diambil tersebut.
“Di sini banyak ada petuah bagaimana cara kita menyayangi badan kita, atman yang ada dalam diri, dan juga bagaimana menyiapkan perjalanan atman ketika sudah lepas dari badan kita sendiri,” ucapnya.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Sukadana, menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap seniman Badung yang tampil di PKB.
“Pemerintah Kabupaten Badung pasti selalu mensupport penuh seniman terkait dengan pelestarian seni, tradisi, dan budaya di Bali,” imbuhnya.
Gede Sukadana juga menyoroti nilai filosofis dalam kesenian wayang. Ketika berbicara masalah wayang, ada banyak filosofis-filosofis hidup yang perlu dijadikan acuan oleh krama Badung dan termasuk juga di dalamnya generasi muda Badung untuk membangun sebuah karakter.
“Ini bisa membangun sebuah karakter yang bisa mencintai yang telah diwariskan oleh leluhur kita, agar kita juga sebagai generasi muda bisa melestarikan,” pungkasnya.(kmf/red)



