“Mulasara” Ajak Generasi Muda Kembali ke Akar Seni dan Peduli Lingkungan Bali

DENPASAR — VISIBALI.COM. Seni kontemporer bertemu dengan sejarah dan tradisi Bali dalam pameran bertajuk “Mulasara” yang resmi dibuka di Puri Agung Pemecutan, Denpasar, Jumat (18/9/2026).
Pameran ini diinisiasi Putri Indonesia Lingkungan 2026 sekaligus Miss International Indonesia 2026, Victoria Titih Sari Kosasieputri, bekerja sama dengan Puri Agung Pemecutan dan komunitas Kultara ID melalui gerakan advokasi “Kembali ke Seni”.
Berlangsung hingga 2 Oktober 2026, Mulasara menghadirkan karya lima seniman muda Bali, yakni “Matra Durga, Ganesh Harshad, Agus Mahardika, Made Arsana, dan Satya Bhuana”.
Berbeda dengan pameran seni yang umumnya digelar di ruang galeri, Mulasara mengambil tempat di lantai dua Balai Lantang, Puri Agung Pemecutan. Pemilihan ruang tersebut menjadi bagian penting dari konsep pameran karena karya-karya yang ditampilkan tidak hanya berbicara tentang seni, tetapi juga merespons sejarah dan karakter ruang puri.
Kelima seniman menghadirkan karya yang berangkat dari kondisi Bali saat ini, termasuk persoalan “overdevelopment” dan “overtourism”. Melalui karya-karya tersebut, Mulasara mencoba membuka dialog antara tradisi yang diwariskan masa lalu dengan perubahan dan modernisasi yang berlangsung di Bali.
Victoria mengatakan, pemilihan puri sebagai lokasi pameran dilakukan secara sadar. Menurut dia, puri memiliki sejarah yang panjang sehingga memberikan konteks berbeda dibandingkan ruang pamer konvensional.
“Saya sangat tertarik untuk menggelar pameran di puri, bukan di galeri seperti pada umumnya. Mengingat sejarah puri itu sebenarnya sangat dalam,” ujar Victoria seusai pembukaan pameran.
Ia menjelaskan, istilah “Mulasara” memiliki makna filosofis. “Mula” merujuk pada akar, asal atau sesuatu yang semula, sedangkan “sara” dimaknai sebagai esensi atau tujuan.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan sebagai ajakan untuk kembali melihat akar kehidupan, termasuk hubungan manusia dengan lingkungan, budaya, dan ruang tempat mereka hidup.
“Temanya ini supaya generasi muda bisa lebih peduli terhadap ekosistem dan lingkungan di sekitar Bali. Dengan dialog tradisi dan modern ini, kita bisa terus berkembang untuk melestarikan bangunan-bangunan sejarah,” katanya.
Bagi Victoria, pameran tersebut juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan latar belakangnya sebagai seniman kontemporer, pekerja budaya, sekaligus Putri Indonesia Lingkungan.
Ia berharap seni dapat menjadi medium untuk menyampaikan persoalan lingkungan secara lebih dekat kepada generasi muda. Seni, menurutnya, tidak berhenti pada karya visual, tetapi dapat menjadi ruang untuk membangun percakapan mengenai perubahan sosial, budaya, dan lingkungan.
Pameran Mulasara juga memiliki agenda yang lebih luas. Victoria berencana membawa gagasan dan proyek tersebut dalam ajang “Miss International 2026” di Tokyo, Jepang, pada November mendatang sebagai bagian dari representasi seni dan budaya Indonesia.
Sementara itu, perwakilan Puri Agung Pemecutan, Anak Agung Ngurah Ketut Parwa, menyambut baik penyelenggaraan Mulasara di lingkungan puri.
Menurutnya, konsep yang ditawarkan pameran tersebut memiliki keterkaitan dengan filosofi kehidupan serta nilai historis Puri Agung Pemecutan.
“Hal ini menurut kami tepat sekali. Mulasara, kembali ke seni, dalam artian bagian dari kehidupan. Suatu proses dalam menjalankan hidup, tentunya ada sesuatu keindahan yang harus kita jalani,” ujarnya.
Keterbukaan ruang puri untuk aktivitas seni juga dinilai menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali fungsi ruang-ruang bersejarah melalui kegiatan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dengan mempertemukan lima seniman muda, sejarah puri, isu lingkungan, serta gagasan tentang hubungan tradisi dan modernitas, Mulasara tidak sekadar menjadi ruang pamer. Pameran ini mencoba menjadikan seni sebagai medium dialog tentang bagaimana Bali dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar budaya dan ruang sejarahnya. (wie)



