Kolaborasi Desa Adat dan Perumda MGS, Dorong Perputaran Ekonomi Lokal di Kuta
Perumda MGS

BADUNG – VISIBALI.COM. Badan Usaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) Desa Adat Kuta mulai serius menggarap potensi ekonomi di wilayahnya. Dengan jumlah hotel, restoran, hingga pusat perbelanjaan yang masif, desa adat tak ingin lagi hanya menjadi penonton di tengah geliat industri pariwisata.
Komitmen tersebut ditegaskan Kepala BUPDA Desa Adat Kuta, I Wayan Suwali, usai penandatanganan kerja sama dengan Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) Badung, Selasa (21/4).
Menurutnya, Kuta memiliki pasar yang sangat besar, mulai dari hotel, restoran, kafe, mal hingga rumah sakit. Seluruh sektor tersebut membutuhkan pasokan barang secara berkelanjutan, terutama kebutuhan dasar.
“Sebagai badan usaha milik desa adat, kami tidak ingin hanya berdiam diri. Kami ingin ikut mengambil peran dan memberikan manfaat ekonomi bagi desa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kerja sama ini mengusung skema business to business (B2B), di mana BUPDA siap memenuhi kebutuhan pelaku usaha di kawasan Kuta. Kehadiran Perumda MGS dinilai menjadi mitra strategis, terutama dalam mendukung distribusi dan skema pembayaran.
Saat ini, kata Suwali, terdapat sekitar 291 hotel di kawasan Kuta, mulai dari hotel bintang satu hingga bintang lima. Selain itu, terdapat pula banyak restoran, rumah sakit, pusat perbelanjaan, hingga toko grosir yang menjadi potensi pasar besar.
Untuk menangkap peluang tersebut, BUPDA Kuta telah membentuk unit usaha grosir sejak 2023. Unit ini difokuskan untuk menyuplai berbagai kebutuhan barang bagi pelaku usaha di wilayah desa adat.
“Market-nya besar, tetapi memang belum tergarap maksimal. Salah satu kendala kami adalah sistem distribusi dan suplai. Melalui kerja sama ini, kami berharap kebutuhan tersebut bisa teratasi,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, BUPDA Kuta sebelumnya telah dinobatkan sebagai BUPDA terbaik di Bali karena model bisnisnya yang berorientasi operasional, bukan berbasis pungutan.
Pembentukan BUPDA sendiri merupakan amanat regulasi daerah, yang mendorong desa adat memiliki badan usaha guna memperkuat ekonomi berbasis adat, selain keberadaan Lembaga Perkreditan Desa (LPD).
Sementara itu, Direktur Perumda MGS Badung, Kompyang Gede Pasek Wedha, menyambut positif kerja sama ini. Ia menilai kolaborasi tersebut membuka peluang pasar yang jauh lebih besar, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pangan sektor pariwisata.
“Kami bergerak di bidang pasar dan pangan, jadi fokus kami adalah memastikan kebutuhan pangan terpenuhi, baik dari sisi kualitas, kapasitas, kontinuitas, maupun harga,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, kebutuhan pangan hotel di Bali tergolong sangat besar. Untuk hotel berbintang empat hingga lima, nilai kebutuhan pangan bisa mencapai miliaran rupiah per bulan, tergantung jumlah kamar.
“Kalau satu hotel saja bisa menyerap sekitar Rp500 juta per bulan, bayangkan jika kita bisa masuk ke 100 hotel. Perputaran ekonominya akan sangat besar,” katanya.
Lebih jauh, ia berharap kerja sama ini tidak hanya berdampak pada kedua pihak, tetapi juga mampu mendorong perputaran ekonomi masyarakat lokal di sekitar kawasan pariwisata.
“Harapannya, keberadaan usaha di daerah tidak hanya menguntungkan pelaku industri, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar,” tandasnya.
Kolaborasi antara BUPDA Kuta dan Perumda MGS ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat ekonomi berbasis desa adat, sekaligus memastikan masyarakat lokal turut menikmati manfaat dari pesatnya industri pariwisata di Bali. (wie)



