Kabut Asap Selimuti Buleleng, Peringatan Dini Pemerintah Belum Terdengar?
Kesehatan Warga Terancam, Dinkes Ingatkan Ancaman ISPA pada Anak

SINGARAJA – VISIBALI.COM – Kebakaran hutan dan lahan dibeberapa tempat mulai berimbas terhadap kualitas udara. Hal itu terlihat adanya kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Buleleng. Kondisi cuaca yang tampak meremang, sementara sinar matahari terlihat tertahan lapisan kabut, menjadi tanda memburuknya kondisi dan kualitas udara di sejumlah kawasan.
Indikasi kabut asap juga muncul dalam panduan cuaca pada sejumlah aplikasi pemantauan cuaca yang menunjukkan kondisi udara Buleleng dalam situasi berkabut dan berasap. Situasi ini tidak semestinya hanya dilihat sebagai persoalan enteng. Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan, kabut asap membawa risiko lain yang lebih dekat dengan masyarakat, yakni paparan polutan yang dapat mengganggu kesehatan.
Persoalannya, di tengah kondisi tersebut, pemerintah daerah sejauh ini belum terdengar mengeluarkan peringatan dini khusus kepada masyarakat terkait potensi dampak kabut asap terhadap kesehatan.
Padahal, kelompok rentan seperti anak-anak membutuhkan perhatian lebih ketika kualitas udara menurun. Informasi mengenai kondisi udara, imbauan penggunaan masker hingga langkah pembatasan aktivitas luar ruangan menjadi penting agar masyarakat tidak hanya mengetahui adanya kabut, tetapi juga memahami risiko yang mengikutinya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, Dr. Sucipto, ketika dikonfirmasi mengenai kondisi tersebut meminta masyarakat tidak menganggap remeh paparan asap. Menurutnya, asap dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan. Karena itu, langkah perlindungan perlu dilakukan, terutama terhadap anak-anak.
“Kabut asap ini tentu akan berpengaruh terhadap kualitas udara, sehingga polusi udara meningkat. Langkah pencegahan yang paling utama, terutama bagi anak-anak yang rentan terhadap perubahan cuaca dan polusi, adalah dengan memakai masker, seperti yang sudah mulai diterapkan di sekolah-sekolah,” jelasnya, Rabu (30/9/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kabut asap bukan sekadar gangguan visual akibat kondisi cuaca. Ketika kualitas udara memburuk, paparan polusi dapat menjadi ancaman kesehatan yang perlu diantisipasi. Sucipto menambahkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebagai salah satu gangguan kesehatan yang patut diwaspadai. Paparan polusi udara dapat membuat keluhan seperti batuk dan pilek lebih mudah muncul.
“Yang paling sering terjadi akibat polusi udara adalah ISPA, dengan gejala seperti batuk dan pilek yang akan lebih mudah menyerang,” tambahnya.
Ancaman tersebut menjadi semakin relevan bagi anak-anak. Mereka yang tetap beraktivitas di luar ruangan ketika udara dipenuhi asap berpotensi lebih banyak terpapar polutan.
Karena itu, perlindungan tidak hanya bergantung pada penggunaan masker. Daya tahan tubuh juga perlu dijaga melalui aktivitas fisik dan asupan makanan yang memadai. Sucipto mendorong anak-anak tetap berolahraga dan memastikan kebutuhan nutrisi serta energi terpenuhi.
“Terkait daya tahan tubuh, kami menyarankan agar anak-anak lebih banyak melakukan aktivitas seperti olahraga dan memastikan asupan makanan yang cukup dan tinggi kalori untuk menjaga stamina mereka,” tutupnya.
Namun, persoalan yang tersisa bukan hanya bagaimana masyarakat melindungi diri dari kabut asap. Respons pemerintah daerah juga menjadi bagian penting yang patut diperhatikan. Di baliknya terdapat persoalan kualitas udara dan kesehatan publik yang membutuhkan kewaspadaan, informasi yang terbuka, serta respons pemerintah yang cepat dan terukur. (red)



