Jatiluwih Festival VII Angkat Budaya Desa dan Sport Tourism dalam Satu Panggung
DTW Jatiluwih

DENPASAR – VISIBALI.COM. Kawasan wisata sawah terasering Jatiluwih di Kabupaten Tabanan kembali bersiap menjadi pusat perhatian. Melalui Jatiluwih Festival VII 2026, destinasi wisata warisan budaya dunia UNESCO itu tidak hanya menghadirkan perayaan seni dan budaya Bali, tetapi juga menggabungkannya dengan konsep sport tourism melalui ajang Run 5K yang digelar perdana pada Minggu, 21 Juni 2026.
Event lari tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pengelola DTW Jatiluwih dengan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali dalam rangka menyambut peringatan 100 Tahun Pariwisata Bali. Sebanyak 2.000 pelari dari berbagai komunitas lari di Bali ditargetkan ikut ambil bagian dalam ajang tersebut.
Para peserta nantinya akan menikmati pengalaman berlari di tengah hamparan sawah terasering khas Jatiluwih dengan udara pegunungan yang sejuk. Konsep ini diyakini mampu memperkuat daya tarik wisata olahraga atau sport tourism yang saat ini semakin diminati wisatawan domestik maupun mancanegara.
Manager Manajemen Operasional DTW Jatiluwih, John Ketut Purna, mengatakan festival tahun ini menjadi momentum penting dalam pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan di Bali.
“Jatiluwih Festival VII bukan sekadar selebrasi budaya, melainkan simbol kebangkitan pariwisata Bali yang berkualitas dan berkelanjutan. Masuknya festival ini ke dalam KEN Kemenpar serta kolaborasi bersama ASITA melalui Run 5K adalah bukti nyata bahwa alam, olahraga, dan budaya bisa berjalan beriringan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Menurut John, festival tahun ini juga menjadi tonggak baru karena untuk pertama kalinya Jatiluwih Festival masuk dalam Kalender Event Nasional (KEN) Kementerian Pariwisata. Dengan status tersebut, festival mendapat dukungan langsung dari pemerintah pusat.
Ia menjelaskan, penyelenggaraan festival kali ini juga digabung dengan Bali Tourism Run yang diinisiasi ASITA Bali. Kolaborasi tersebut disebut menjadi strategi untuk memperkuat promosi pariwisata Bali sekaligus menjaga keberlanjutan budaya desa.
Pada hari pertama festival, Sabtu (20/6/2026), panitia akan memfokuskan kegiatan pada seremoni budaya dengan melibatkan masyarakat desa dan generasi muda. Berbagai kesenian tradisional yang mulai jarang ditampilkan akan kembali dihadirkan sebagai upaya pelestarian budaya lokal.
“Kami ingin anak-anak muda tidak melupakan budaya yang dimiliki desa mereka sendiri. Karena itu festival ini juga menjadi ruang membangkitkan kembali tradisi-tradisi desa,” katanya.
Berbeda dari festival kebanyakan, panitia mengaku tidak terlalu fokus menghadirkan artis-artis besar dari luar daerah. Anggaran justru diarahkan untuk mendukung masyarakat lokal, termasuk pengadaan alat-alat pertanian dan hadiah bagi warga.
Selain Run 5K, pengunjung festival selama dua hari penuh akan disuguhkan berbagai pertunjukan seni budaya Bali di alam terbuka, pameran UMKM Tabanan, kuliner lokal, hingga edukasi sistem pertanian subak yang menjadi identitas Jatiluwih.
John menambahkan, kehadiran ribuan peserta lari diyakini akan memberikan dampak ekonomi berantai bagi masyarakat sekitar, mulai dari homestay, warung lokal, hingga promosi produk unggulan seperti beras merah dan kopi Jatiluwih.
“Efeknya akan sangat besar bagi masyarakat lokal. Tidak hanya sektor pariwisata, tetapi juga produk pertanian dan UMKM warga,” imbuhnya.
Saat ini, pendaftaran Run 5K telah dibuka secara daring. Hingga kini jumlah peserta yang mendaftar disebut sudah mencapai sekitar 500 hingga 600 orang. Meski sempat muncul usulan target hingga 7.000 peserta, panitia memilih membatasi jumlah pelari maksimal 2.000 orang demi menjaga kenyamanan masyarakat dan kelestarian kawasan Jatiluwih.
Ajang Run 5K ini juga menawarkan total hadiah puluhan juta rupiah bagi para pemenang. Panitia berharap dukungan berbagai pihak, termasuk media, dapat membantu promosi event tersebut agar target peserta terpenuhi.
Ke depan, Jatiluwih juga berencana mengembangkan event sport tourism lain dengan konsep yang lebih besar. Namun untuk tahun ini, pihak panitia memilih memulai dengan konsep sederhana melalui lari 5 kilometer yang dinilai paling sesuai dengan karakter kawasan wisata Jatiluwih. (red)



