
SINGARAJA – VISIBALI.COM – Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Buleleng bergerak cepat menyambangi keluarga almarhum Ibrahim Mujab, jemaah haji asal Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, yang meninggal dunia di Mekkah, Arab Saudi, usai menjalani rangkaian puncak ibadah haji.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Buleleng, H. Agus Annurrachman, mengatakan kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk belasungkawa sekaligus dukungan moril kepada keluarga yang ditinggalkan.
Menurut Agus, kehadiran pihaknya dapat memberikan ketenangan bagi keluarga sekaligus memastikan seluruh hak jemaah yang wafat di Tanah Suci dapat terpenuhi sesuai prosedur yang berlaku.
“Alhamdulillah, kunjungan kami ke sana disambut dengan sangat baik oleh pihak keluarga. Mereka menyampaikan ucapan terima kasih, dan kehadiran kami ternyata menjadi penyemangat bagi mereka,” ujar Agus Annurrachman, Senin (1/6/2026).
Ia mengungkapkan keluarga telah menerima dan mengikhlaskan kepergian almarhum. Terlebih, Ibrahim Mujab mengembuskan napas terakhir di Kota Suci Mekkah dan dimakamkan di sana setelah menyelesaikan rangkaian utama ibadah haji.
“Meninggal di Arab Saudi, bahkan dimakamkan di sana pada posisi pasca-puncak haji, merupakan impian bagi sebagian besar umat Islam di Indonesia. Pihak keluarga sudah ikhlas, dan kedatangan kami dari Kemenag memberikan tambahan support serta semangat agar keluarga lebih tenang,” katanya.
Agus juga mendoakan agar almarhum memperoleh predikat haji mabrur dan seluruh amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT. Sementara terkait administrasi dan dokumen jemaah yang wafat, pihaknya memastikan proses koordinasi masih berjalan dan akan segera diselesaikan.
“Terkait dengan dokumen, nanti akan segera kami kirimkan karena saat ini masih dalam proses koordinasi,” tandasnya.

Sebelumnya, pendamping jemaah haji Buleleng, Muhammad Ali Susanto, mengonfirmasi Ibrahim Mujab (75) meninggal dunia di Rumah Sakit King Faisal, Mekkah, pada Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 13.30 Waktu Arab Saudi.
Menurut Ali, kondisi kesehatan Ibrahim telah menurun sejak awal keberangkatan. Faktor usia dan kondisi fisik yang melemah setelah menjalani rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) membuat kesehatannya terus menurun hingga akhirnya harus mendapatkan perawatan medis.
“Kondisinya semakin menurun setelah Armuzna karena beliau mengalami kesulitan makan sehingga fisiknya terus melemah,” jelas Ali.
Meski belum sempat menyelesaikan tawaf ifadlah dan sai, ibadah haji almarhum tetap dinyatakan sah karena telah melaksanakan wukuf di Arafah sebagai rukun utama haji. Prosesi pelengkap ibadah kemudian dibadalkan oleh penyelenggara haji Indonesia di Arab Saudi. (red).



