Kondisi Ekonomi Bali Timpang, BI Ungkap 90 Persen Investasi Masih Terpusat di Selatan

SINGARAJA – VISIBALI.COM – Ketimpangan ekonomi Bali Utara dan Bali Selatan masih menjadi tantangan pembangunan kedepan. Bank Indonesia (BI) mencatat lebih dari 90 persen investasi di Bali terkonsentrasi di wilayah selatan. Penguatan industri pengolahan dan rantai pasok dinilai menjadi salah satu solusi untuk mendorong pemerataan ekonomi.
Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani, dalam Focus Group Discussion (FGD) Balinomics Triwulan III 2026 di Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Kamis (5/11/2026).
Achris mengungkapkan, kawasan Sarbagita berkontribusi sekitar 58 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Bali. Sementara Bali Utara dan wilayah sekitarnya masih menyumbang kurang dari 40 persen.
“Data investasi menunjukkan para investor masih konsentrasi di Bali Selatan, bahkan angkanya berada di atas 90 persen. Ketimpangan Utara dan Selatan ini secara ekonomi memang cukup lebar dan menjadi fakta hingga saat ini,” jelas Achris.
Menurutnya, pemerataan ekonomi tidak harus dengan memindahkan pusat pariwisata ke Bali Utara. Keterhubungan antara permintaan pasar di selatan dan potensi produksi di utara justru perlu diperkuat.
“Pariwisata memang tetap menjadi motor utama, yang saat ini tanda kutip berada di selatan. Namun, tingginya permintaan (demand) di selatan itu pasokannya (supply) bisa disokong dari utara. Ini harus dilakukan secara terintegrasi,” imbuhnya.
Achris menilai hilirisasi komoditas lokal dapat menjadi langkah yang lebih cepat dilakukan sembari menunggu pembangunan infrastruktur jangka panjang. Komoditas seperti cengkeh dan bunga kamboja atau jepun dinilai memiliki peluang dikembangkan melalui industri pengolahan.
“Kuncinya adalah membangun ekosistem. Industri pengolahan itu pasarnya lebih pasti dibandingkan sekadar trader. Kita butuh investor yang sekaligus industrialis—yang punya teknologi, modal, dan pasar—sehingga potensi seperti cengkeh atau tanaman kamboja di masyarakat bisa langsung terserap,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Bappeda Buleleng Komang Audi Berawijaya menyebut pertanian menjadi sektor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah. Sektor ini bahkan menyumbang sekitar 20 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Buleleng.
“Buleleng memiliki potensi yang luar biasa. Pengalaman saat Covid-19 kemarin, ketika sektor pariwisata terpuruk, kita relatif tetap bertahan karena potensi pertanian dalam arti luas—mulai dari perkebunan, sayur, hingga buah-buahan,” kata Audi.
Karena itu, pemerintah daerah memprioritaskan dukungan anggaran untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
“Dari sisi perencanaan, kami memprioritaskan anggaran terkait peningkatan hasil pertanian. Karena di PDRB kita, pertanian merupakan nomor satu dengan kontribusi 20 persen. Jadi intervensi pemerintah dalam penganggaran pertanian harus lebih besar,” tegasnya.
Audi menambahkan, pengembangan pertanian akan difokuskan pada pembinaan petani, mendorong investasi industri pengolahan, serta memperluas pemasaran hasil produksi. Potensi agrowisata dan seni budaya lokal juga akan dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Buleleng.
“Kita tidak hanya bicara pembangunan ekonomi semata, tetapi juga pemerataan pembangunan, peningkatan pendapatan masyarakat, hingga sektor pendidikan dan kesehatan. Dan yang paling penting, kita harus terus mendorong masuknya investasi yang dibutuhkan di Buleleng,” tandas Audi. (red)



