
SINGARAJA – VISIBALI.COM – Layanan pemadam kebakaran Kabupaten Buleleng masih dibayangi keterbatasan armada. Kendaraan yang seharusnya menjadi ujung tombak penanganan kebakaran justru banyak berusia lebih dari dua dekade dan mulai mengalami kerusakan.
Terbaru, satu armada berkapasitas 5.000 liter mengalami patah as roda saat perjalanan pulang setelah memadamkan kebakaran di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada. Mobil keluaran 2004 tersebut kini tidak dapat dioperasikan.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Buleleng, I Gede Arya Suardana, mengakui kondisi sarana dan prasarana Damkar saat ini masih jauh dari ideal.
“Kami memohon maaf kepada masyarakat. Kalau bicara maksimal, kami belum bisa. Kemampuan kami dari sisi sarana prasarana baru mencapai 30 persen dari total kebutuhan,” ujar Arya, Kamis (17/9/2026).
Dari enam armada utama yang dimiliki Buleleng dan tersebar di Pos Seririt, Pos Kubutambahan serta Pos Induk, dua unit disebut dalam kondisi rusak. Satu armada tua lainnya bahkan sudah tidak digunakan untuk pemadaman.
Keterbatasan armada diperparah dengan minimnya pos pemadam. Buleleng yang memiliki wilayah luas dan garis pantai sekitar 157 kilometer saat ini hanya memiliki tiga pos, sedangkan kebutuhan ideal diperkirakan mencapai 10 pos.
Kondisi tersebut berpengaruh terhadap response time. Arya menyebut standar waktu tanggap maksimal 15 menit akan sulit dicapai jika jarak antara pos dan lokasi kebakaran terlalu jauh.
“Bayangkan jika ada kejadian di Sumberklampok, butuh berapa jam perjalanan dari Seririt ke sana? Padahal standar response time maksimal 15 menit. Ini sangat tidak ideal,” tegasnya.
Persoalan armada juga mendapat perhatian Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra. Ia mengakui sebagian besar kendaraan Damkar telah berusia lebih dari 20 tahun. Bahkan, sejumlah suku cadang mulai sulit diperoleh.
Pemkab Buleleng berencana melakukan peremajaan secara bertahap. Keterbatasan anggaran membuat pengadaan tahun ini baru mampu merealisasikan satu armada kecil.
Sutjidra menargetkan penambahan armada pada 2027, khususnya kendaraan berkapasitas besar untuk memperkuat Pos Induk.
“Paling tidak kita butuh enam unit baru yang ideal. Untuk tahun 2027, astungkara saya usahakan minimal ada tambahan dua armada lagi,” kata Sutjidra.
Meski sarana masih terbatas, operasional tetap dijalankan 24 jam. Sebanyak 123 personel Damkar disiagakan dalam sistem regu dan shift untuk merespons laporan kebakaran. (red)



